Tampilkan postingan dengan label Renungan Kita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan Kita. Tampilkan semua postingan

Rabu, 18 Maret 2009

Jejak Pelayan

^
TUHAN telah memilih kami dari semula...
Menetapkan kami sebagai pelayan-pelayan-Nya..
bukan karena kuat kami, apalagi karena gagah dan kecakapan kami...

Beberapa bulan yang lalu, kami ditetapkan untuk melayani...
mempercayakan jiwa kepada kami
betapa kami bersyukur...

Dalam penjejakan pelayanan kami, semuanya tidak mudah
sulit memang, tapi kami bisa, dan pasti masih bisa karena Dia..
dalam bagian kami ini, kami sering mengalami konflik...
konflik antar kami, konflik pribadi, dll...



namun, saat-saat itu dijadikan-Nya untuk membentuk setiap kami...
Benar..! bahwa ".....manusia menajamkan sesamanya..."

dan saat kami menemu jalan sukar
hanya Dia tempat jawaban kami
sebab tangan kasih-Nya tersedia bagi kami
setiap kala kami datang pada-Nya...
^
Read More »»

Selasa, 10 Februari 2009

Sajak Untuk Negeri

BUMIKU, AKAN MASIHKAH?


Kicauan burung-burung sayup-sayup terdengar pergi

Hembusan sang angin perlahan pasti tak lagi membelai

Hutan-hutanku menjerit-jerit tak adalah didengar

Merintih dalam kebisuan sepi yang hambar


Gaduh dan ramai mencabik jahat hutan-hutanku

Tak perduli walau ia terluka bahkan musnah tiada

Warna bumiku tak lagi hijau berseri sejuk

Telah hitam kelam dari asap-asap tak penting!


Akan masihkah bumiku ada?

Atau tenggelam dalam lautan kelam?

Akan masihkah kayu-kayu hutanku tegar di atas bumiku?

Atau terkulai menangis dalam truk-truk yang tak legal?


Alamku, bumiku…

Kemana gerangan indahmu pergi?

Kemana gerangan lestarimu berlari?

Akankah perhiasan-perhiasanmu kembali?

Akankah gunungmu, pelangimu, lautmu, anginmu kembali?


Pasti…! Pasti…!

Mereka pasti kembali…

Selama aku dan sesamaku ada

Memelihara erat-erat perhiasan-perhiasanmu itu

^

Salam Perdamaian

^

Read More »»

Negriku Tertimbun


"Buanglah sampah pada tempatnya....". Mungkin slogan ini sering kali terdengar di telinga kita, saat kita duduk di bangku sekolah. Ya, karena ini mengenai moral, mungkin dipelajari saat belajar PPKn atau Agama. Slogan singkat ini mungkin terlalu singkat, namun penuh makna. Namun, slogan ini akan tetap menjadi slogan tanpa perbuatan...

Ya, bagaimana tidak, walau slogan itu ada dimana-mana, namun di beberapa tempat, di sudut negri ini, sampah merupakan pemandangan yang biasa dilihat, bahkan bisa sampai berbukit-bukit...

Suatu hari gw keluar dari kosan gw. Sore itu seorang Ibu menggendong anaknya. Di tangannya ada sebuah kantongan plastik yang cukup besar. Gw melewati Ibu tersebut. Saat itu gw sadar itu adalah BUNGKUSAN SAMPAH. Setelah gw melewatinya, gw noleh ke belakang, dan gw kaget. Ibu itu buang sampah ke kali dekat kosan gw. Sekedar info, di depan rumah Ibu itu, ada tmpat sampah, namun dia sepertinya menganggap bahwa KALI adalah TEMPAT TERBAIK membuang SAMPAH. Gw cuma bisa ngeliatin Ibu itu dengan rasa sedih kali ya. Sedih dengan ketidaksadarannya. Tapi ntah kenapa gw hanya bisa diam dan berlalu.



Di hari lain, siang hari gw berjalan di sekitar kampus gw. Sekumpulan anak sekolah lewat. Mereka kelihatan riang banget, sambil makan dan minum air mineral. Air mineralnya habis. Dan apa yang terjadi? Bisa ditebak, mereka dengan entenganya membuang botolnya ke dalam got. Beramai-ramai pula. Gw pelototin mereka, berharap mereka tau isyarat gw bahwa itu sagat tidak baik. Tapi mereka terlalu riang dengan tawa mereka masing-masing. Gw lagi-lagi terdiam dan berlalu.

Dua contoh di atas merupakan cerminan terhadap moral di negeri ini tentang menjaga kelestarian lingkungan masih kurang. Tapi, bila suatu hari bencana datang, banjir melanda, semua tuduhan, cacian, bahkan umpatan tertuju pada pemerintah. Seringkali kita tidak menyadari bahwa bencana yang kita alami merupakan buah dari apa yang telah kita perbuat.

Mungkin kesadaran ini harus benar-benar ditanamnkan sejak dini terhadap anak bangsa. Mungkin jangan sekedar slogan yang diucapkan, namun dipraktekkan. Untuk generasi muda bangsa, mari mulai dari diri kita, demi nusa dan untuk bangsa, Mohon Buang Sampah pada Tempatnya!!

^Salam perdamaian^
Read More »»

Selasa, 09 Desember 2008

Melody yang Tak Utuh

^
Saat itu kita lemah, rapuh, lelah...
Semua mimik seperti memancar keputus-asaan
Seperti tak ada jalan keluar bagi kita
Semua buntu, kelam, dan suram...
Ahh....

Beberapa dari kita mulai bersuara
Suara-suara pengharapan dan mimpi sayup-sayup terdengar
Ahh... Andai bisa...

Satu per satu lidah-lidah kita yang tadi membeku,
memiliki waktu akhirnya untuk angkat suara,
walau beberapa yang lain tetap membisu...
Ahh...

Keadaan itu semakin genting
Suara-suara yang menyarankan tadi
menjadi tajam dan runcing...
Ahh... Haruskah...? Mungkin...!

Sampai akhirnya dia pergi
bagian dari kita, saat itu
Meninggalkan kita, jiwa-jiwa yang masih berharap mungkin...

TUHAN, tolong kami...
kami merasa tak utuh
Kapan kami akan utuh, ya TUHAN...?
Mungkin nanti, suatu waktu...
Utuh, sehati, sepikir, dan setujuan...
Ahh...

^ Read More »»

Selasa, 18 November 2008

Pahlawan Sejati

Nah... Postingan ini adalah lanjutan dari postingan gw sebelumnya.

Cerita "Pahlawan Sejati" mungkin demikian...

Ada seorang ayah yang tinggal dengan seorang anak kecilnya yang sangat ia kasihi... Mereka hanya tinggal berdua di sebuah tempat di dekat sebuah rel kereta api.. Ayah ini bekerja sebagai penghubung rel jembatan... Jadi, setiap kereta mau lewat, pekerjaannya adalah, menurunkan rel sehingga terhubung ke seberang, dan kereta bisa lewat....

Ayah dan anak ini hidup bahagia walau hanya mereka berdua... Anak ini selalu bermain bersama ayahnya... Mereka selalu bersama....

Suatu hari, anaknya ini bermain-main di rel seberang.... Ayahnya sedang mengerjakan sesuatu... Beberapa saat kemudian, sebuah kereta datang dari seberang lainnya. Kereta ini berisi orang2 pemabuk, berandal, dan pengguna obat-obatan terlarang.... Ayahnya mau menurunkan jembatan rel, namun kaget melihat anaknya yang bermain di rel... Ketika ayahnya ini, melihatnya, dia memanggil-manggil anaknya... Namun, anaknya ini jatuh ke dalam rel, dan terjepit tidak bisa keluar dari rel itu...

Ayahnya sedang dalam 2 pilihan yang sangat besar dan sulit... Apakah dia harus menurunkan rel itu, dan membiarkan anaknya mati...?? Atau tidak menurunkan rel itu, tapi orang2 di dalam kereta itu akan jatuh ke sungai dan mati...?? Terlihat ayahnya menangis... Waktupun berlalu sangat cepat, sehingga ia harus mengambil keputusan yang harus ceepat...

Dengan menitikkan air mata, ayah ini akhirnya menurunkan rel kereta ini, dan membiarkan anaknya mati demi orang-orang yang sesungguhnya tidak benar ini.. Keretanya pun melintasi dia yg sedang menangis... Seorang cewek pengguna narkoba, melihat ayah yg menangis ini menatap anaknya yang sudah tidak bernyawa lagi... Kereta pun berlalu...

Beberapa waktu kemudian....

Ayah ini pergi berjalan-jalan ke kota, sendirian... Cewek yang melihat ayah ini dari kereta terlihat menggendong seorang bayi, dengan wajah yg sangat gembira. Cewek ini akhirnya berhenti dari narkoba, menikah, mempunyai anak, dan bahagia... Cewek ini menatap ayah ini, seakan ingin mengungkapkan sejuta terima kasih...

Nah... Teman2 pembaca sekalian... Menjadi pahlawan tidak harus membinasakan orang2 yang menurut kita laknat... Kenapa harus membinasakannya selagi kita masih bisa menyadarkannya untuk kembali ke yg benar...???

Nah... Mari jadi pahlawan-pahlawan sejati... :)

^ Read More »»

Jadi Pahlawan.....?

Hffff.... Arene, gw baru bisa buka blog, setelah beberapa hari sebelumnya, gw pusing n sibuk dgn kegiatan2ku... Hfff... Akhirnya.... Sebenarnya, banyak sih yg pengen gw post di blog ini, tapi waktunya ga terlalu banyak agaknya....

Yg pengen banget gw post adalah mengenai Pahlawan....? Why? Tanya kenapa? Karena gw baru denger ini di GKI Pengadilan Minggu kemaren... Hehehe...

Ceritanya kaya gini nih...

Siapa sih yang ga pengen jadi pahlawan...? Semua juga mau dan seneng kali klu disebut jadi Pahlawan? Pahlawan sebenarnya adalah orang2 yg mengerjakan "pahala". Ya, pasti semuanya ingin berbuat demikian kan...? Namun, seringkali Pahlawan disalahartikan oleh beberapa orang...

Why...?? Tanya Kenn...??

Baru2 ini teroris yg menghancurkan Legian-Bali dieksekusi mati... Banyak pro dan kontra dalam pengeksekusian mereka... Kenapa pro dan kontra? Hal ini berkaitan dengan ke-pahlawanan. Bagi sebagian orang, mereka ini adalah pahlawan - yang katanya Jihad. Namun, benarkah demikian....? Gw pernah baca di milis, katanya nih kalo Jihad itu emang untuk "memerangi" yang ga bener...??

Pertanyaannya: Apa semua orang yg di Legian-Bali itu ga bener...?

Lagian, apa semua orang bersalah itu harus dimusnahkan?? Kalo mereka dimusnahkan, tidak adakah waktu dan kesempatan lagi buat mereka untuk bertobat...?? Gw mungkin punya cerita tentang, mungkin gw sebut sebagai "PAHLAWAN SEJATI" di postingan selanjutnya.


Pahlawan sejati sesungguhnya adalah orang-orang yang menciptakan damai sejahtera di bumi ini... Namun, dengan kejadiam Bom Bali I, apakah orang2 damai sejahtera...? Tentu nggak... Dan apakah mereka - para pembom itu juga damai sejahtera...??

Nah, akhirnya setiap orang tidak harus melakukan hal-hal besar untuk menjadi seorang pahlawan... Cukup ciptakan damai sejahtera di sekelilingmu... Just it...!

Have a nice life....!!

^
Read More »»

Selasa, 21 Oktober 2008

Renungan Kakak-Adik

I Cried For My Brother Six Times

Aku dilahirkan di sebuah dusun pegunungan yang sangat terpencil. Hari demi hari, orang tuaku membajak tanah kering kuning, dan punggung mereka menghadap ke langit. Aku mempunyai seorang adik, tiga tahun lebih muda dariku. Suatu ketika, untuk membeli sebuah sapu tangan yang mana semua gadis di sekelilingku kelihatannya membawanya, aku mencuri lima puluh sen dari laci ayahku. Ayah segera menyadarinya. Beliau membuat adikku dan diriku berlutut di depan tembok, dengan sebuah tongkat bambu di tangannya.

"Siapa yang mencuri uang itu?" Beliau bertanya.

Aku terpaku, terlalu takut untuk berbicara. Ayah tidak mendengar siapa pun mengaku, jadi Beliau mengatakan, "Baiklah, kalau begitu, kalian berdua layak dipukul!"

Dia mengangkat tongkat bambu itu tingi-tinggi.

Tiba-tiba, adikku mencengkeram tangannya dan berkata, "Ayah, aku yang melakukannya!"

Tongkat panjang itu menghantam punggung adikku bertubi-tubi. Ayah begitu marahnya sehingga ia terus menerus mencambukinya sampai Beliau kehabisan nafas. Sesudahnya, Beliau duduk di atas ranjang batu bata kami dan memarahi, "Kamu sudah belajar mencuri dari rumah sekarang, hal memalukan apa lagi yang akan kamu lakukan di masa mendatang? ... Kamu layak dipukul sampai mati! Kamu pencuri tidak tahu malu!"

Malam itu, ibu dan aku memeluk adikku dalam pelukan kami. Tubuhnya penuh dengan luka, tetapi ia tidak menitikkan air mata setetes pun.

Di pertengahan malam itu, saya tiba-tiba mulai menangis meraung-raung. Adikku menutup mulutku dengan tangan kecilnya dan berkata, "Kak, jangan menangis lagi sekarang. Semuanya sudah terjadi."

Aku masih selalu membenci diriku karena tidak memiliki cukup keberanian untuk maju mengaku.

Bertahun-tahun telah lewat, tapi insiden tersebut masih kelihatan seperti baru kemarin. Aku tidak pernah akan lupa tampang adikku ketika ia melindungiku. Waktu itu, adikku berusia 8 tahun. Aku berusia 11.

Ketika adikku berada pada tahun terakhirnya di SMP, ia lulus untuk masuk ke SMA di pusat kabupaten. Pada saat yang sama, saya diterima untuk masuk ke sebuah universitas propinsi. Malam itu, ayah berjongkok di halaman, menghisap rokok tembakaunya, bungkus demi bungkus. Saya mendengarnya merengut, "Kedua anak kita memberikan hasil yang begitu baik...hasil yang begitu baik..."

Ibu mengusap air matanya yang mengalir dan menghela nafas, "Apa gunanya? Bagaimana mungkin kita bisa membiayai keduanya sekaligus?"

Saat itu juga, adikku berjalan keluar ke hadapan ayah dan berkata, "Ayah, saya tidak mau melanjutkan sekolah lagi, telah cukup membaca banyak buku."

Ayah mengayunkan tangannya dan memukul adikku pada wajahnya.

"Mengapa kau mempunyai jiwa yang begitu keparat lemahnya? Bahkan jika berarti saya mesti mengemis di jalanan, saya akan menyekolahkan kamu berdua sampai selesai!"

Dan begitu kemudian ia mengetuk setiap rumah di dusun itu untuk meminjam uang. Aku menjulurkan tanganku selembut yang aku bisa ke muka adikku yang membengkak, dan berkata, "Seorang anak laki-laki harus meneruskan sekolahnya; kalau tidak ia tidak akan pernah meninggalkan jurang kemiskinan ini."

Aku, sebaliknya, telah memutuskan untuk tidak lagi meneruskan ke universitas. Siapa sangka keesokan harinya, sebelum subuh datang, adikku meninggalkan rumah dengan beberapa helai pakaian lusuh dan sedikit kacang yang sudah mengering. Dia menyelinap ke samping ranjangku dan meninggalkan secarik kertas di atas bantalku:

"Kak, masuk ke universitas tidaklah mudah. Saya akan pergi mencari kerja dan mengirimu uang."

Aku memegang kertas tersebut di atas tempat tidurku, dan menangis dengan air mata bercucuran sampai suaraku hilang. Tahun itu, adikku berusia 17 tahun. Aku 20.

Dengan uang yang ayahku pinjam dari seluruh dusun, dan uang yang adikku hasilkan dari mengangkut semen pada punggungnya di lokasi konstruksi, aku akhirnya sampai ke tahun ketiga (di universitas).

Suatu hari, aku sedang belajar di kamarku, ketika teman sekamarku masuk dan memberitahukan, "Ada seorang penduduk dusun menunggumu di luar sana!"

Mengapa ada seorang penduduk dusun mencariku?

Aku berjalan keluar, dan melihat adikku dari jauh, seluruh badannya kotor tertutup debu semen dan pasir. Aku menanyakannya, "Mengapa kamu tidak bilang pada teman sekamarku kamu adalah adikku?"

Dia menjawab, tersenyum, "Lihat bagaimana penampilanku. Apa yang akan mereka pikir jika mereka tahu saya adalah adikmu? Apa mereka tidak akan menertawakanmu?"

Aku merasa terenyuh, dan air mata memenuhi mataku. Aku menyapu debu-debu dari adikku semuanya, dan tersekat-sekat dalam kata-kataku, "Aku tidak perduli omongan siapa pun! Kamu adalah adikku apa pun juga! Kamu adalah adikku bagaimana pun penampilanmu..."

Dari sakunya, ia mengeluarkan sebuah jepit rambut berbentuk kupu-kupu. Ia memakaikannya kepadaku, dan terus menjelaskan, "Saya melihat semua gadis kota memakainya. Jadi saya pikir kamu juga harus memiliki satu."

Aku tidak dapat menahan diri lebih lama lagi. Aku menarik adikku ke dalam pelukanku dan menangis dan menangis. Tahun itu, ia berusia 20. Aku 23.

Kali pertama aku membawa pacarku ke rumah, kaca jendela yang pecah telah diganti, dan kelihatan bersih di mana-mana. Setelah pacarku pulang, aku menari seperti gadis kecil di depan ibuku.

"Bu, ibu tidak perlu menghabiskan begitu banyak waktu untuk membersihkan rumah kita!"

Tetapi katanya, sambil tersenyum, "Itu adalah adikmu yang pulang awal untuk membersihkan rumah ini. Tidakkah kamu melihat luka pada tangannya? Ia terluka ketika memasang kaca jendela baru itu.."

Aku masuk ke dalam ruangan kecil adikku. Melihat mukanya yang kurus, seratus jarum terasa menusukku. Aku mengoleskan sedikit saleb pada lukanya dan membalut lukanya.

"Apakah itu sakit?" Aku menanyakannya.

"Tidak, tidak sakit. Kamu tahu, ketika saya bekerja di lokasi konstruksi, batu-batu berjatuhan pada kakiku setiap waktu. Bahkan itu tidak menghentikanku bekerja dan..."

Di tengah kalimat itu ia berhenti. Aku membalikkan tubuhku memunggunginya, dan air mata mengalir deras turun ke wajahku. Tahun itu, adikku 23. Aku berusia 26.

Ketika aku menikah, aku tinggal di kota. Berkali-kali suamiku dan aku mengundang orang tuaku untuk datang dan tinggal bersama kami, tetapi mereka tidak pernah mau. Mereka mengatakan, sekali meninggalkan dusun, mereka tidak akan tahu harus mengerjakan apa. Adikku tidak setuju juga, mengatakan, "Kak, jagalah mertuamu aja. Saya akan menjaga ibu dan ayah di sini."

Suamiku menjadi direktur pabriknya. Kami menginginkan adikku mendapatkan pekerjaan sebagai manajer pada departemen pemeliharaan. Tetapi adikku menolak tawaran tersebut. Ia bersikeras memulai bekerja sebagai pekerja reparasi.

Suatu hari, adikku diatas sebuah tangga untuk memperbaiki sebuah kabel, ketika ia mendapat sengatan listrik, dan masuk rumah sakit.

Suamiku dan aku pergi menjenguknya. Melihat gips putih pada kakinya, saya menggerutu, "Mengapa kamu menolak menjadi manajer? Manajer tidak akan pernah harus melakukan sesuatu yang berbahaya seperti ini. Lihat kamu sekarang, luka yang begitu serius. Mengapa kamu tidak mau mendengar kami sebelumnya?"

Dengan tampang yang serius pada wajahnya, ia membela keputusannya. "Pikirkan kakak ipar--ia baru saja jadi direktur, dan saya hampir tidak berpendidikan. Jika saya menjadi manajer seperti itu, berita seperti apa yang akan menjadi buah bibir orang?"

Mata suamiku dipenuhi air mata, dan kemudian keluar kata-kataku yang sepatah-sepatah: "Tapi kamu kurang pendidikan juga karena aku!"

"Mengapa membicarakan masa lalu?"

Adikku menggenggam tanganku. Tahun itu, ia berusia 26 dan aku 29.

Adikku kemudian berusia 30 ketika ia menikahi seorang gadis petani dari dusun itu. Dalam acara pernikahannya, pembawa acara perayaan itu bertanya kepadanya, "Siapa yang paling kamu hormati dan kasihi?"

Tanpa bahkan berpikir ia menjawab, "Kakakku."

Ia melanjutkan dengan menceritakan kembali sebuah kisah yang bahkan tidak dapat kuingat.

"Ketika saya pergi sekolah SD, ia berada pada dusun yang berbeda. Setiap hari kakakku dan saya berjalan selama dua jam untuk pergi ke sekolah dan pulang ke rumah. Suatu hari, saya kehilangan satu dari sarung tanganku. Kakakku memberikan satu dari kepunyaannya. Ia hanya memakai satu saja dan berjalan sejauh itu. Ketika kami tiba di rumah, tangannya begitu gemetaran karena cuaca yang begitu dingin sampai ia tidak dapat memegang sumpitnya. Sejak hari itu, saya bersumpah, selama saya masih hidup, saya akan menjaga kakakku dan baik kepadanya."

Tepuk tangan membanjiri ruangan itu. Semua tamu memalingkan perhatiannya kepadaku.

Kata-kata begitu susah kuucapkan keluar bibirku, "Dalam hidupku, orang yang paling aku berterima kasih kepadanya adalah adikku."

Dan dalam kesempatan yang paling berbahagia ini, di depan kerumunan perayaan ini, air mata bercucuran turun dari wajahku seperti sungai.

Taken From : www.kidung.com

Read More »»

Kasih Ibu Sepanjang Masa

Delapan Kebohongan Seorang Ibu Dalam Hidupnya


Dalam kehidupan kita sehari-hari, kita percaya bahwa kebohongan akan membuat manusia terpuruk dalam penderitaan yang mendalam, tetapi kisah ini justru sebaliknya. Dengan adanya kebohongan ini, makna sesungguhnya dari kebohongan ini justru dapat membuka mata kita dan terbebas dari penderitaan, ibarat sebuah energi yang mampu mendorong mekarnya sekuntum bunga yang paling indah di dunia.

Cerita bermula ketika aku masih kecil, aku terlahir sebagai seorang anak laki-laki di sebuah keluarga yang miskin. Bahkan untuk makan saja, seringkali kekurangan. Ketika makan, ibu sering memberikan porsi nasinya untukku. Sambil memindahkan nasi ke mangkukku, ibu berkata : "Makanlah nak, aku tidak lapar" ---------- KEBOHONGAN IBU YANG PERTAMA

Ketika saya mulai tumbuh dewasa, ibu yang gigih sering meluangkan waktu senggangnya untuk pergi memancing di kolam dekat rumah, ibu berharap dari ikan hasil pancingan, ia bisa memberikan sedikit makanan bergizi untuk petumbuhan. Sepulang memancing, ibu memasak sup ikan yang segar dan mengundang selera. Sewaktu aku memakan sup ikan itu, ibu duduk di sampingku dan memakan sisa daging ikan yang masih menempel di tulang yang merupakan bekas sisa tulang ikan yang aku makan. Aku melihat ibu seperti itu, hati juga tersentuh, lalu menggunakan sumpitku dan memberikannya kepada ibuku. Tetapi ibu dengan cepat menolaknya, ia berkata : "Makanlah nak, aku tidak suka makan ikan" ---------- KEBOHONGAN IBU YANG KEDUA

Sekarang aku sudah masuk SMP, demi membiayai sekolah abang dan kakakku, ibu pergi ke koperasi untuk membawa sejumlah kotak korek api untuk ditempel, dan hasil tempelannya itu membuahkan sedikit uang untuk menutupi kebutuhan hidup. Di kala musim dingin tiba, aku bangun dari tempat tidurku, melihat ibu masih bertumpu pada lilin kecil dan dengan gigihnya melanjutkan pekerjaannya menempel kotak korek api. Aku berkata :"Ibu, tidurlah, udah malam, besok pagi ibu masih harus kerja." Ibu tersenyum dan berkata :"Cepatlah tidur nak, aku tidak capek" ---------- KEBOHONGAN IBU YANG KETIGA

Ketika ujian tiba, ibu meminta cuti kerja supaya dapat menemaniku pergi ujian. Ketika hari sudah siang, terik matahari mulai menyinari, ibu yang tegar dan gigih menunggu aku di bawah terik matahari selama beberapa jam. Ketika bunyi lonceng berbunyi menandakan ujian sudah selesai, Ibu dengan segera menyambutku dan menuangkan teh yang sudah disiapkan dalam botol yang dingin untukku. Teh yang begitu kental tidak dapat dibandingkan dengan kasih sayang yang jauh lebih kental. Melihat ibu yang dibanjiri peluh, aku segera memberikan gelasku untuk ibu sambil menyuruhnya minum. Ibu berkata : "Minumlah nak, aku tidak haus!" ---------- KEBOHONGAN IBU YANG KEEMPAT

Setelah kepergian ayah karena sakit, ibu yang malang harus merangkap sebagai ayah dan ibu. Dengan berpegang pada pekerjaan dia yang dulu, dia harus membiayai kebutuhan hidup sendiri. Kehidupan keluarga kita pun semakin susah dan susah. Tiada hari tanpa penderitaan. Melihat kondisi keluarga yang semakin parah, ada seorang paman yang baik hati yang tinggal di dekat rumahku pun membantu ibuku baik masalah besar maupun masalah kecil. Tetangga yang ada di sebelah rumah melihat kehidupan kita yang begitu sengsara, seringkali menasehati ibuku untuk menikah lagi. Tetapi ibu yang memang keras kepala tidak mengindahkan nasehat mereka, ibu berkata : "Saya tidak butuh cinta" ----------KEBOHONGAN IBU YANG KELIMA

Setelah aku, kakakku dan abangku semuanya sudah tamat dari sekolah dan bekerja, ibu yang sudah tua sudah waktunya pensiun. Tetapi ibu tidak mau, ia rela untuk pergi ke pasar setiap pagi untuk jualan sedikit sayur untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Kakakku dan abangku yang bekerja di luar kota sering mengirimkan sedikit uang untuk membantu memenuhi kebutuhan ibu, tetapi ibu bersikukuh tidak mau menerima uang tersebut. Malahan mengirim balik uang tersebut. Ibu berkata : "Saya punya duit" ----------KEBOHONGAN IBU YANG KEENAM

Setelah lulus dari S1, aku pun melanjutkan studi ke S2 dan kemudian memperoleh gelar master di sebuah universitas ternama di Amerika berkat sebuah beasiswa di sebuah perusahaan. Akhirnya aku pun bekerja di perusahaan itu. Dengan gaji yang lumayan tinggi, aku bermaksud membawa ibuku untuk menikmati hidup di Amerika. Tetapi ibu yang baik hati, bermaksud tidak mau merepotkan anaknya, ia berkata kepadaku "Aku tidak terbiasa" ----------KEBOHONGAN IBU YANG KETUJUH

Setelah memasuki usianya yang tua, ibu terkena penyakit kanker lambung, harus dirawat di rumah sakit, aku yang berada jauh di seberang samudra atlantik langsung segera pulang untuk menjenguk ibunda tercinta. Aku melihat ibu yang terbaring lemah di ranjangnya setelah menjalani operasi. Ibu yang keliatan sangat tua, menatap aku dengan penuh kerinduan. Walaupun senyum yang tersebar di wajahnya terkesan agak kaku karena sakit yang ditahannya. Terlihat dengan jelas betapa penyakit itu menjamahi tubuh ibuku sehingga ibuku terlihat lemah dan kurus kering. Aku sambil menatap ibuku sambil berlinang air mata. Hatiku perih, sakit sekali melihat ibuku dalam kondisi seperti ini. Tetapi ibu dengan tegarnya berkata : "Jangan menangis anakku, aku tidak kesakitan" ----------KEBOHONGAN IBU YANG KEDELAPAN.

Setelah mengucapkan kebohongannya yang kedelapan, ibuku tercinta menutup matanya untuk yang terakhir kalinya.


Dari cerita di atas, saya percaya teman-teman sekalian pasti merasa tersentuh dan ingin sekali mengucapkan : " Terima kasih ibu ! " Coba dipikir-pikir teman, sudah berapa lamakah kita tidak menelepon ayah ibu kita? Sudah berapa lamakah kita tidak menghabiskan waktu kita untuk berbincang dengan ayah ibu kita? Di tengah-tengah aktivitas kita yang padat ini, kita selalu mempunyai beribu-ribu alasan untuk meninggalkan ayah ibu kita yang kesepian. Kita selalu lupa akan ayah dan ibu yang ada di rumah.
Jika dibandingkan dengan pacar kita, kita pasti lebih peduli dengan pacar kita. Buktinya, kita selalu cemas akan kabar pacar kita, cemas apakah dia sudah makan atau belum, cemas apakah dia bahagia bila di samping kita. Namun, apakah kita semua pernah mencemaskan kabar dari ortu kita? Cemas apakah ortu kita sudah makan atau belum? Cemas apakah ortu kita sudah bahagia atau belum? Apakah ini benar? Kalau ya, coba kita renungkan kembali lagi. Di waktu kita masih mempunyai kesempatan untuk membalas budi ortu kita, lakukanlah yang terbaik. Jangan sampai ada kata "MENYESAL" di kemudian hari.

Taken From : www.kidung.com
Read More »»